Permaforst yang mencair melepaskan dinitrogen oksida - 15 Apr 2010  
email to friend  Kirim halaman ini buat teman    Cetak

Penelitian baru-baru ini oleh ilmuwan di Universitas Kopenhagen di Denmark telah menemukan bahwa gas rumah kaca dinitrogen oksida dilepaskan dari permafrost yang mencair di Belahan Bumi Utara.

Diidentifikasi sebagai gas rumah kaca ketiga yang paling dominan oleh
Perserikatan Bangsa Bangsa setelah karbon dioksida dan metana, dinitrogen oksida 310 kali lebih panas daripada karbon dioksida dan pelepasannya ke atmosfer menciptakan lingkaran umpan balik yang mempercepat pemanasan global.

Dulu, para ilmuwan telah berpikir bahwa pencairan permafrost tidak melepaskan dinitrogen oksida dalam jumlah yang besar, tapi penelitian paling baru yang dilakukan pada sampel inti Greenland mengindikasikan bahwa saat tanah jenuh dengan air karena pencairan es, produksi dinitrogen oksida meningkat hingga 20 kali dari level alaminya, dengan yang ketiga memasuki atmosfer.

Maha Guru Ching Hai sering menyampaikan kepeduliannya tentang pencairan permafrost Arktik, juga mendorong tindakan untuk mengeremnya, seperti pada konferensi video Juli 2008 bersama anggota Asosiasi kami di AS.

Maha Guru Ching Hai: Dan kalian tahu, jika tidak dingin maka semua permafrost yang merupakan lapisan tanah es yang keras juga akan mencair, lalu gas  yang berada di permafrost itu akan dilepaskan.

Jadi, itu tergantung pada berapa banyak orang yang ikut bergabung untuk bervegetarian. Makin banyak orang yang bervegetarian, makin sedikit pembunuhan hewan, makin banyak waktu yang kita miliki untuk menyelamatkan planet ini dan kehidupan di planet ini. Jadi, tiap orang harus bergabung dalam diet vegetarian, dan menghentikan pembunuhan, berhenti mencelakai orang lain dan juga hewan-hewan, menghemat energi dengan jalan apa pun yang mungkin dan bertindak ‘hijau’ sebisa mungkin. Dengan begitu kita masih bisa menyelamatkan planet ini.

http://abcnews.go.com/Technology/wireStory?id=10290840
http://www.triplepundit.com/2010/04/nitro-oxides-global-warming-impact-no-laughing-matter